Inilah Janji Allah Kepada Orang Beriman dan Ancaman Bagi Orang Kafir
Janji Allah Kepada Orang Beriman
dan Ancaman Bagi Orang Kafir
(Tafsir Al-Maidah ayat 9-10)
(KH. M. SYAMLAN)
Firman Allah Ta’ala:
وَعَدَ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِۙ لَهُمْ مَّغْفِرَةٌ وَّاَجْرٌ عَظِيْمٌ (٩
“Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh bahwa bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.”
وَالَّذِيْنَ كَفَرُوْا وَكَذَّبُوْا بِاٰيٰتِنَآ اُولٰۤىِٕكَ اَصْحٰبُ الْجَحِيْمِ (١٠
“Dan orang-orang yang kafir serta mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itulah penghuni neraka Jahim.”
Penjelasan:
Allah – Dzat yang tidak pernah menyelisihi janji – memberikan janji kepada orang-orang yang beriman kepada Allah dan para rasul-Nya serta beramal saleh, bahwa mereka akan mendapatkan ampunan atas dosa-dosa mereka dan pahala yang sangat besar, yaitu masuk ke dalam surga.
Adapun orang-orang yang kafir kepada Allah dan mendustakan ayat-ayat-Nya, maka mereka adalah penghuni neraka, masuk ke dalamnya sebagai balasan atas kekufuran dan pendustaan mereka, dan mereka akan kekal di dalamnya sebagaimana seorang sahabat selalu melekat kepada sahabatnya.
Pelajaran:
- Keutamaan iman dan amal saleh
Ayat ini menunjukkan besarnya keutamaan iman dan amal saleh, karena Allah menjanjikan pahala bagi keduanya. Setiap amal yang diberi pahala menunjukkan bahwa amal itu mulia dan diperintahkan.
- Iman saja tidak cukup tanpa amal
Sebagian orang hanya menekankan pada “yang penting akidahnya benar”, namun mengabaikan amal. Ini pemahaman yang kurang tepat. Iman harus dibuktikan dengan amal saleh, bukan sekadar keyakinan di hati.
- Penetapan sifat maghfirah (ampunan) bagi Allah
Allah berfirman: “Bagi mereka ampunan.”
Walaupun kata “dari Allah” tidak disebutkan, tetapi sudah jelas bahwa yang memberi ampunan hanyalah Allah, sebagaimana firman-Nya:
وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ
“Siapa yang dapat mengampuni dosa selain Allah?” (Ali ‘Imran: 135).
Maksud maghfirah: menutup dosa dan menghapusnya.
- Karunia Allah kepada hamba-Nya
Allah menyebut pahala itu sebagai “upah” (ajr), seakan-akan manusia bekerja lalu diberi bayaran. Padahal seluruh karunia dan taufik untuk beramal itu berasal dari Allah sejak awal. Ini menunjukkan kemurahan Allah.
- Besarnya pahala bagi orang beriman yang beramal saleh
Allah menamakan balasan itu sebagai “pahala yang agung”. Jika Dzat Yang Maha Agung menyebut sesuatu sebagai agung, maka besarnya tentu jauh melampaui bayangan manusia.
- Al-Qur’an selalu menyebutkan dua sisi: janji dan ancaman
Ketika Allah menyebutkan balasan bagi orang saleh, Dia menyertakannya dengan ancaman bagi pelaku keburukan. Hikmahnya agar manusia berada dalam keadaan antara takut dan berharap:
Jika hanya melihat pahala → seseorang bisa terlalu berharap dan lengah.
Jika hanya melihat ancaman → bisa terjatuh pada putus asa.
Karena itu Allah menyeimbangkan keduanya.
- Kafir bisa disertai dengan pendustaan dan bisa tidak
Terkadang Allah menyebut kufur saja, seperti:
ٱلنَّارَ ٱلَّتِیۤ أُعِدَّتْ لِلْكَـٰفِرِینَ
Terkadang menyebut pendustaan saja, dan terkadang menyebut keduanya bersamaan seperti dalam ayat ini.
Karena masing-masing (kufur atau mendustakan) sudah cukup menjadi sebab kekekalan di neraka, dan bila digabung maka hukumannya lebih keras.
- Kewajiban menerima ayat-ayat Allah dengan penuh kepasrahan
Seseorang wajib membenarkan seluruh berita dalam Al-Qur’an dan menjalankan hukum-hukumnya. Karena Allah mengancam orang yang mendustakan ayat-ayat-Nya sebagai penghuni Jahim.
- Kekekalan orang kafir di dalam neraka
Allah menyebut mereka sebagai “ash-hābul jahīm” (penghuni Jahim).
Kata ash-hāb menunjukkan kelekatan dan kekekalan, sebagaimana dalam hadits: “Tidaklah seseorang dari umat ini—Yahudi atau Nasrani—mendengar tentang aku lalu tidak beriman terhadap yang aku bawa, kecuali ia termasuk penghuni neraka.”
(HR. Muslim)
Selengkapnya dapat disimak di :
