• Bertaubatlah, sebelum maut menghampiri dan menjemputmu
Selasa, 13 Januari 2026

TAUSHIYAH KH. MUHAMMAD SYAMLAN “Santri Mengawal Kemerdekaan Menuju Peradaban Dunia”

TAUSHIYAH KH. MUHAMMAD SYAMLAN “Santri Mengawal Kemerdekaan Menuju Peradaban Dunia”
Bagikan

 

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ

الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلاة على رسول الله وبعد.

Segala puji bagi Allah Subhānahu wa Ta‘ālā yang telah melimpahkan nikmat iman, Islam, dan kesempatan bagi kita semua untuk hadir Pada Upacara yang penuh berakah ini: memperingati Hari Santri Nasional, hari di mana kita mengenang semangat perjuangan dan keikhlasan para santri, kiyai, ustadz/ustzdzah dan ulama dalam mengawal kemerdekaan negeri tercinta.

Shalawat serta salam semoga tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad ﷺ, kepada keluarga, sahabat, dan seluruh pengikutnya yang istiqamah hingga akhir zaman.

Hadirin rahimakumullah,
Hari ini, kita memperingati Hari Santri Nasional dengan tema yang sangat mulia:
“Santri Mengawal Kemerdekaan Menuju Peradaban Dunia.”

Tema ini bukan sekadar slogan. Ia adalah seruan sejarah, seruan perjuangan, dan juga seruan masa depan. Karena santri bukan hanya penjaga masjid dan kitab, tetapi penjaga jiwa bangsa dan pembangun peradaban dunia.

Mari kita buka kembali lembaran sejarah. Ketika bangsa ini belum merdeka, siapa yang pertama kali menyalakan api perlawanan terhadap penjajah?
Adakah dari mereka para santri dan ulama?

Ya, benar sekali.
Dari pesantren lahir semangat jihad fi sabilillah. Dari bilik-bilik sederhana yang beratap daun dan berdinding bambu, keluar suara takbir dan pekik kemerdekaan.

Kita masih ingat fatwa dan seruan Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 yang dikeluarkan oleh Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari.
Seruan itu menyatakan bahwa “membela tanah air dari penjajahan adalah bagian dari jihad fi sabilillah.”

Resolusi itu kemudian menjadi api yang membakar semangat arek-arek Suroboyo melawan penjajah dalam pertempuran 10 November. Maka benarlah, kemerdekaan Indonesia tidak bisa dipisahkan dari perjuangan santri dan para kiai.

Mereka bukan hanya berperang dengan senjata, tapi juga dengan doa, dengan ilmu, dengan dakwah, dengan kalimat Lā ilāha illallāh yang menjadi sumber kekuatan batin bangsa ini.

Santri itu punya dua kekuatan:
Cinta tanah air dan cinta akhirat.

Dalam diri santri, kebangsaan dan keimanan menyatu menjadi satu kekuatan besar.
Mereka belajar di pesantren bukan untuk mengejar dunia, tetapi untuk membangun bangsa dalam rangka mengabdi kepada Allah.

Inilah yang dimaksud dengan semboyan pesantren:

 “Hubbul Wathan minal Iman” Cinta Tanah Air adalah bagian dari Iman.

Santri tahu bahwa mencintai negeri ini adalah bagian dari ibadah.
Menjaga kemerdekaan, menjaga perdamaian, dan menjaga persatuan adalah wujud cinta kepada Allah melalui cinta kepada hamba2-Nya.

Hadirin yang dimuliakan Allah,
Tema kita hari ini menekankan peran santri menuju peradaban dunia.

Apa maksudnya?
Bahwa santri tidak boleh berhenti hanya pada menjaga kemerdekaan masa lalu, tetapi harus meneruskan perjuangan dengan membangun peradaban masa depan.

Peradaban dunia hari ini sedang kehilangan arah.
Teknologi maju, tapi akhlak merosot.
Ilmu melimpah, tapi nilai-nilai kemanusiaan menurun.
Kekuatan besar justru kadang digunakan untuk menindas yang lemah.

Di sinilah peran santri dibutuhkan.
Santri harus tampil menjadi penyeimbang peradaban global, membawa nilai-nilai Islam yang rahmatan lil ‘ālamīn.
Mengajarkan bahwa kemajuan tanpa moral hanyalah kehancuran yang tertunda.

Santri harus bisa berdiri di tengah dunia modern, membawa kitab di satu tangan, dan teknologi di tangan lainnya.
Seperti yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ:

 “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ahmad)

Artinya, santri masa kini bukan hanya harus pandai membaca kitab kuning, tetapi juga harus mampu membaca kitab kehidupan; membaca zaman, membaca tantangan, dan menjawabnya dengan iman, ilmu, amal dan akhlaq mulia.

Anak2ku para santri,
Tugas kalian hari ini berbeda dengan para santri zaman dulu.
Kalau dulu mereka berjuang dengan bambu runcing, maka hari ini kita berjuang dengan pena, ilmu, dan teknologi.

Kalau dulu musuhnya penjajahan fisik, maka hari ini musuhnya adalah kebodohan, kemalasan, kemaksiatan, dekadensi moral, korupsi, sekularisme, hedonisme dan lain2 kerusakan mental.

Karena itu, santri harus menjadi pelopor pendidikan, penyeru kebaikan, pencegah kemunkaran, penggerak kemaslahatan, dan penjaga moral bangsa.

Santri harus menguasai bahasa dunia, ilmu pengetahuan, dan keterampilan modern. Tapi tetap menjaga akhlak dan adab yang diajarkan Nabi Muhammad melalui para ulama. Santri harus selalu menjaga prinsip, aqidah dan ibadah. Santri harus pemberani dalam kebenaran. Selalu menyuarakan Islam.

Seperti pesan KH. Ahmad Dahlan:

“Kemunduran umat Islam karena sebagian besar umat Islam terlalu jauh meninggalkan ajaran Islam. Selain itu disebabkan pula oleh kemerosotan akhlak sehingga penuh ketakutan seperti kambing dan tidak lagi memiliki keberanian seperti harimau. ”

Pesantren hari ini telah berkembang menjadi pusat peradaban baru.
Di sana lahir intelektual, pemimpin, dan tokoh masyarakat.
Bahkan banyak pemimpin bangsa kita dan dunia lahir dari rahim pesantren.

Pesantren tidak hanya mengajarkan fiqih dan tauhid, tetapi juga menanamkan disiplin, kemandirian, dan semangat gotong royong.
Inilah modal besar bangsa ini untuk bersaing di dunia global.

Jika negara-negara lain membangun peradaban dengan kekuatan ekonomi, maka Indonesia akan membangun peradaban dunia dengan kekuatan akhlak dan spiritualitas.
Dan itu pusatnya adalah pesantren.
Ingat,

إنمـا الأمـم الأخلاق مـا بقيـت // فإن هم ذهبت أخلاقـهم ذهبــواً
Innamal umamul akhlaqu maa bagiat… fain hum dzahabat akhlaquhum dzahabu..

Sesungguhnya bangsa-bangsa itu jaya selama ada akhlak. Apabila mereka hilang akhlak, maka lenyaplah bangsa itu.”

Wahai para santri,
Bangkitlah dan buktikan bahwa kalian adalah pewaris para pejuang.
Jangan minder menghadapi kemajuan zaman.
Kalian bukan “kaum belakang”, tapi justru pengemban dan penjaga terdepan moral bangsa.

Gunakan waktu kalian untuk menuntut ilmu, berkhidmat kepada guru, dan berjuang di jalan Allah.
Karena sesungguhnya, orang yang berilmu dan berakhlak itulah yang akan memimpin dunia.

Sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-Mujādilah ayat 11:

 يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
“Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman di antara kamu, dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”

Hadirin yang dimuliakan Allah,
Mari kita jadikan momentum Hari Santri ini sebagai pengingat bahwa perjuangan belum selesai.
Kemerdekaan yang diwariskan para kiai dan pejuang adalah amanah yang harus kita jaga dengan iman, ilmu, amal dan akhlak yang terus tanpa mengenal henti.
Selamat, semoga semua diberkahi.

والسلام عليكم ورحمة اللّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ


TAUSHIYAH KH. MUHAMMAD SYAMLAN
Pembina Ma’had Rabbani Bengkulu/Pimpinan Pondok Pesantren IIT Rabbani

Hari Santri Nasional 22 Oktober 2025

Tema: “Santri Mengawal Kemerdekaan Menuju Peradaban Dunia”

Admin OH

SebelumnyaPeringati Hari Santri 2025, Kanwil Kemenag Bengkulu Gelar Apel Akbar di Ponpes IIT RabbaniSesudahnyaCRAB 2025: Ajang Kreativitas dan Prestasi Siswa Rabbani
1 Komentar

Tulis komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Sasminto, Kamis 23 Okt 2025

MasyaAllah.. Barakallahu fiikum jami’an..

Balas