Tak Ada Lagi Alasan Tidak Tahu – KH. Muhammad Syamlan
Kajian Tafsir Masjid Baitul Atieq Sawah Lebar
QS. Al-Mā’idah Ayat 19
Sabtu, 4 Ramadhan 1447 H | 21 Februari 2026
KH. Muhammad Syamlan
Firman Allah Ta’ala
يَٰٓأَهۡلَ ٱلۡكِتَٰبِ قَدۡ جَآءَكُمۡ رَسُولُنَا يُبَيِّنُ لَكُمۡ عَلَىٰ فَتۡرَةٖ مِّنَ ٱلرُّسُلِ أَن تَقُولُواْ مَا جَآءَنَا مِنۢ بَشِيرٖ وَلَا نَذِيرٖ ۖ فَقَدۡ جَآءَكُم بَشِيرٞ وَنَذِيرٞ ۗ وَٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٞ
Artinya:
“Hai Ahli Kitab, sungguh telah datang kepadamu Rasul Kami, yang menjelaskan (syariat Kami) kepadamu ketika terputus (pengiriman) para rasul, agar kamu tidak mengatakan, ‘Tidak ada yang datang kepada kami, baik seorang pembawa berita gembira maupun seorang pemberi peringatan.’ Maka sungguh telah datang kepadamu pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
(QS. Al-Mā’idah: 19)
Penjelasan Umum
Pada ayat ini, Allah ﷻ memanggil Ahli Kitab, yaitu kaum Yahudi dan Nasrani. Allah ﷻ menegaskan bahwa telah datang kepada mereka seorang Rasul, yaitu Nabi Muhammad ﷺ, nabi terakhir dan penutup para nabi, yang diutus untuk seluruh umat manusia.
Pengutusan Nabi Muhammad ﷺ terjadi setelah masa panjang tanpa hadirnya nabi dan rasul. Masa itu dikenal sebagai fatrah, yakni jeda kenabian setelah diutusnya Nabi Isa ‘alaihissalam. Rentang waktu tersebut diperkirakan sekitar enam ratus tahun.
Karena itu, tidak ada lagi alasan bagi mereka untuk mengatakan bahwa tidak datang pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan. Tabiat manusia memang membutuhkan bimbingan: kabar gembira bagi yang taat dan peringatan bagi yang menyimpang. Itulah tugas para nabi dan rasul.
Dalam masa fatrah yang panjang itu, manusia mengalami kegelapan spiritual. Seakan-akan cahaya petunjuk redup. Maka dengan diutusnya Nabi Muhammad ﷺ, cahaya itu kembali terang. Terlebih lagi, Ahli Kitab sebenarnya mengetahui sifat-sifat Nabi akhir zaman sebagaimana disebutkan dalam kitab-kitab mereka.
Ayat ini ditutup dengan penegasan bahwa Allah ﷻ Maha Kuasa atas segala sesuatu. Kehadiran nabi adalah ujian. Ketiadaan nabi dalam waktu tertentu pun ujian. Semua berada dalam kebijaksanaan dan kekuasaan Allah ﷻ. Tinggal manusia memilih: beriman atau menolak.
Pelajaran:
1. Yahudi dan Nasrani disebut Ahli Kitab.
Yahudi dan Nasrani disebut Ahli Kitab karena mereka memiliki kitab suci: Taurat yang dibawa Nabi Musa dan Injil yang dibawa Nabi Isa. Adapun selain mereka disebut musyrikin, yaitu orang-orang yang menyekutukan Allah dan tidak memiliki kitab samawi. Sebutan ini bentuk sanjungan dan pendekatan, tapi juga secara halus tamparan bagi yang mau mendengar.
2. Risalah Nabi Muhammad ﷺ untuk Semua, termasuk Yahudi dan Nasrani.
Nabi Muhammad ﷺ diutus bukan hanya untuk bangsa Arab di Makkah, tetapi untuk seluruh manusia, termasuk Ahli Kitab. Maka tidak benar anggapan: “Kami sudah memiliki kitab, tidak perlu mengikuti Nabi Muhammad ﷺ.” Risalah beliau bersifat universal.
3. Konsekuensi Menolak Nabi Muhammad ﷺ
Karena beliau ﷺ diutus untuk semua manusia, maka siapa pun yang tidak beriman kepadanya, termasuk dari kalangan Ahli Kitab, termasuk dalam kekufuran. Allah ﷻ berfirman dalam QS. Al-Bayyinah ayat 6 bahwa orang-orang kafir dari Ahli Kitab dan kaum musyrikin berada dalam neraka Jahannam jika tidak beriman.
4. Nabi Muhammad ﷺ Bukan Satu-Satunya Rasul
Sebelum beliau ﷺ, Allah ﷻ telah mengutus banyak nabi dan rasul. Ini menunjukkan kesinambungan risalah tauhid sepanjang sejarah manusia.
5. Makna Fatrah
Fatrah adalah masa kevakuman kenabian yang panjang setelah Nabi Isa ‘alaihissalam, sekitar enam ratus tahun. Biasanya jarak antar nabi tidak sepanjang itu. Masa ini seperti kemarau panjang: manusia kehausan petunjuk dan ilmu.
6. Manusia Sangat Membutuhkan Ilmu
Kebutuhan manusia terhadap ilmu dan petunjuk lebih besar daripada kebutuhan terhadap makanan dan minuman. Tanpa wahyu, manusia jatuh dalam kegelapan dan kebingungan.
7. Tugas Nabi: Bashir dan Nadzīr
Setiap nabi membawa dua misi utama:
Bashir (pembawa kabar gembira): Surga bagi yang beriman dan beramal shalih.
Nadzīr (pemberi peringatan): Neraka bagi yang kufur dan durhaka.
Ironisnya, manusia sering merindukan datangnya nabi, tetapi ketika nabi itu benar-benar datang, mereka justru menolaknya.
8. Model Pendidikan: Memberikan Harapan dan memberikan Peringatan
Dalam pendidikan harus ada keseimbangan antara penghargaan dan sanksi. Terlalu banyak pujian melahirkan kesombongan; terlalu banyak ancaman melahirkan ketakutan berlebihan. Al-Qur’an sendiri sering menggandengkan penyebutan Surga dan Neraka sebagai bentuk keseimbangan.
9. Sumber Pendidikan Harus Wahyu
Pendidikan yang tidak bersumber dari wahyu akan melahirkan kejahiliahan modern. Sekolah setinggi apa pun, jika jauh dari wahyu, tidak akan melahirkan manusia yang benar-benar tercerahkan.
10. Nabi Muhammad ﷺ sebagai Hujjah yang Nyata
Setelah diutusnya Nabi Muhammad ﷺ, tidak ada lagi alasan untuk berkata, “Saya tidak tahu.” Hujjah telah tegak. Pertanggungjawaban di akhirat bersifat pribadi; tidak bisa berdalih mengikuti tokoh atau tradisi.
11. Keadilan Allah ﷻ
Allah ﷻ tidak akan mengazab sebelum datang peringatan. Adapun orang yang benar-benar tidak mengetahui (seperti anak kecil yang belum baligh atau orang yang hilang akal), memiliki ketentuan tersendiri dalam keadilan Allah ﷻ.
12. Allah Maha Kuasa
Segala sesuatu berada dalam kekuasaan Allah ﷻ. Tugas manusia hanyalah tunduk dan patuh kepada-Nya.
13. Relevansi untuk Kita
Ayat ini memang ditujukan kepada Ahli Kitab, tetapi pesannya juga untuk kita. Jika kita tidak mengikuti Nabi Muhammad ﷺ dengan sungguh-sungguh, maka posisi kita tidak berbeda dari mereka yang menolak.
Semoga Allah ﷻ menjadikan kita termasuk orang-orang yang menerima kabar gembira, mengambil pelajaran dari peringatan, dan tunduk sepenuhnya kepada risalah Nabi Muhammad ﷺ.
