• Bertaubatlah, sebelum maut menghampiri dan menjemputmu
Senin, 25 Mei 2026

Bab. 35 Mereka Hendak Mengubah Janji Allah – Kalamullah itu Haq

Bab. 35 Mereka Hendak Mengubah Janji Allah - Kalamullah itu Haq
Bagikan

Kajian Kitab Tauhid Shohih Al Bukhori
Masjid Raya Baitul Izzah Bengkulu
Bab. 35 Mereka Hendak Mengubah Janji Allah
Senin 25 Syawal 1447H | 13 Februari 2026


KH. Muhammad Syamlan
Kalamullah itu Haq

Imam Bukhori menyebutkan, Kalam Allah itu benar-benar pasti kebenarannya, teristimewa yang ada di dalam Al Quran. Kalam Allah adalah firman Allah. Ketetapan Allah yang terkait dengan hukum kauniyah dan syar’iah. Kalam Allah tidak boleh dijadikan permainan.

Dalam bab ini Imam Bukhori menyebutkan Qs. Al Fath ayat 15

Allah Ta’ala berfirman:

سَيَقُولُ الْمُخَلَّفُونَ إِذَا انْطَلَقْتُمْ إِلَى مَغَانِمَ لِتَأْخُذُوهَا ذَرُونَا نَتَّبِعْكُمْ يُرِيدُونَ أَنْ يُبَدِّلُوا كَلَامَ اللَّهِ ۚ قُلْ لَنْ تَتَّبِعُونَا كَذَٰلِكُمْ قَالَ اللَّهُ مِنْ قَبْلُ ۖ فَسَيَقُولُونَ بَلْ تَحْسُدُونَنَا ۚ بَلْ كَانُوا لَا يَفْقَهُونَ إِلَّا قَلِيلًا

Artinya:
“Orang-orang Badui yang tertinggal itu akan berkata apabila kamu berangkat untuk mengambil barang rampasan, ‘Biarkanlah kami, niscaya kami mengikuti kamu.’ Mereka hendak mengubah janji Allah. Katakanlah, ‘Kamu sekali-kali tidak boleh mengikuti kami; demikian Allah telah menetapkan sebelumnya.’ Maka mereka akan mengatakan, ‘Sebenarnya kamu dengki kepada kami.’ Bahkan mereka tidak mengerti, kecuali sedikit sekali.”
(QS. Al-Fath: 15)

Penjelasan Umum
Imam Al-Bukhari dalam bab ini menegaskan bahwa Kalamullah adalah haq, yakni benar, pasti, dan tidak mengandung keraguan. Kalamullah adalah firman Allah, baik yang berkaitan dengan ketetapan kauniyah maupun syar’iyah. Karena itu, kalam Allah tidak boleh dijadikan permainan, tidak boleh dipermudah dengan hawa nafsu, dan tidak boleh diubah dari ketetapan yang telah Allah gariskan.

Dalam ayat yang disebutkan, Allah menerangkan keadaan orang-orang yang tertinggal dan tidak ikut bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam peristiwa penting sebelumnya. Ketika kaum mukminin hendak berangkat untuk mengambil harta rampasan perang Khaibar, orang-orang yang sebelumnya tertinggal itu justru ingin ikut serta agar memperoleh bagian darinya. Permintaan mereka bukan lahir dari ketundukan kepada Allah, melainkan dari keinginan untuk mendapatkan keuntungan dunia. Dalam hal ini, mereka ingin mengubah janji Allah yang telah ditetapkan sebelumnya.

Allah telah menetapkan bahwa harta rampasan perang tersebut diberikan kepada orang-orang yang hadir dalam Perjanjian Hudaibiyah. Oleh sebab itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diperintahkan untuk menegaskan bahwa mereka tidak boleh ikut. Namun, orang-orang yang tertinggal itu tidak menerima ketetapan tersebut dengan lapang dada. Mereka justru menuduh kaum mukminin dengki kepada mereka. Padahal, masalahnya bukanlah kedengkian, melainkan ketetapan Allah yang tidak boleh diubah. Ayat ini sekaligus menunjukkan bahwa kebodohan terhadap agama dan dangkalnya pemahaman terhadap perintah Allah dapat menyeret seseorang kepada kemaksiatan dan penyimpangan.

Dengan demikian, ayat ini tidak hanya berbicara tentang sebuah peristiwa, tetapi juga menanamkan prinsip yang sangat agung dalam akidah dan sikap beragama: bahwa firman Allah adalah kebenaran mutlak, wajib diterima dengan penuh ketundukan, dan tidak boleh dihadapi dengan hawa nafsu, kepentingan pribadi, atau upaya mengubah hukum-hukum-Nya.

Pelajaran

1. Kalamullah adalah haq dan harus diyakini dengan benar.
Imam Al-Bukhari melalui bab ini ingin menegaskan bahwa kalam Allah adalah benar-benar firman Allah. Ini merupakan bagian penting dari akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Seorang muslim wajib meyakini bahwa Allah berbicara sesuai dengan kehendak-Nya, dan firman-Nya bukan sesuatu yang sia-sia atau tidak bermakna. Pemahaman ini penting dijaga, terlebih ketika muncul penyimpangan pemikiran yang merusak pokok-pokok akidah. Karena ada golongan Muktazilah terus menerus melancarkan pahamnya bahwa Kalamullah itu adalah makhluk.

2. Kalamullah bersifat pasti, sempurna, dan tidak mengandung pertentangan.
Firman Allah adalah kebenaran yang mutlak. Tidak ada keraguan di dalamnya, tidak ada kontradiksi, dan tidak ada kebatilan yang dapat menandinginya. Bahkan, Allah menantang manusia untuk mendatangkan yang semisal dengan Al-Qur’an, namun hingga kini tidak ada seorang pun yang mampu melakukannya. Ini menunjukkan kemuliaan dan keagungan kalam Allah di atas seluruh ucapan makhluk.

3. Seorang mukmin wajib berpegang teguh kepada kalam Allah dengan sepenuh hati.
Karena kalam Allah adalah kebenaran yang pasti, maka sikap seorang mukmin adalah menerima, tunduk, dan berpegang teguh kepadanya. Inilah salah satu pembeda utama antara manusia yang taat dengan makhluk lain. Seluruh makhluk tunduk kepada Allah sesuai ketentuan-Nya, sedangkan manusia diuji: apakah ia bersedia tunduk kepada perintah Allah atau justru menolaknya karena hawa nafsu. Oleh karena itu, ketika manusia diminta tunduk dan patuh kepada Allah maka banyak yang tidak mau.

4. Agama Allah tidak boleh diubah.
Ayat ini menegaskan celaan terhadap orang-orang yang hendak mengubah janji Allah. Dari sini dipahami bahwa hukum, ketetapan, dan ajaran Allah tidak boleh dimodifikasi sesuai selera manusia. Mengubah agama, meremehkan hukum Allah, atau menyesuaikan syariat dengan hawa nafsu adalah jalan menuju kesesatan. Seorang muslim wajib bersikap amanah terhadap agama ini, bukan menjadi pihak yang merusaknya.

5. Mengikuti hawa nafsu adalah sebab penyimpangan dalam beragama.
Orang-orang munafik mengikuti agama sesuai dengan apa yang menguntungkan mereka. Ketika ada kesenangan, peluang, atau keuntungan dunia, mereka ingin ikut. Namun ketika keadaan sulit, mereka memilih mundur. Ini menunjukkan bahaya besar hawa nafsu. Agama tidak boleh dijalani secara pilih-pilih berdasarkan untung dan rugi menurut pandangan duniawi. Ketaatan yang benar adalah tetap teguh dalam kondisi lapang maupun sempit.

6. Kalamullah harus disikapi dengan serius, bukan dengan main-main.
Firman Allah bukan bahan senda gurau. Karena itu, setiap ayat harus disambut dengan pengagungan, kesungguhan, dan keinginan untuk mengamalkan. Ancaman berat berlaku bagi orang yang mempermainkan ayat-ayat Allah, meremehkannya, atau menjadikannya sekadar bahan ucapan tanpa kesungguhan untuk tunduk. Adab terhadap kalamullah menuntut ketakziman, ketaatan, dan kehati-hatian.

7. Pentingnya untuk selalu belajar.
Allah menyebut bahwa mereka “tidak memahami kecuali sedikit”. Ini menunjukkan bahwa kebodohan adalah pintu bahaya yang besar. Orang yang sedikit ilmunya, namun berani berbicara, menilai, dan bersikap terhadap agama, sangat mudah terjatuh ke dalam penyimpangan. Karena itu, menuntut ilmu agama secara benar, mendalam, dan berkesinambungan adalah kebutuhan pokok bagi setiap muslim. Dari ayat ini dapat dipahami pentingnya selalu belajar kepada majelis ilmu yang benar, yang benar-benar menambah kedekatan kepada Allah, bukan malah menjauhkan dari-Nya. Seorang muslim perlu mencari ta’lim yang membimbing kepada pemahaman yang lurus, adab yang baik, dan semangat beramal. Ilmu yang benar akan menolong seseorang untuk membedakan antara ketetapan Allah dan dorongan hawa nafsunya sendiri.

8. Orang-orang yang lemah iman itu sedikit disaat kondisi susah dan menakutkan tapi banyak sekali berdatangan di saat kondisi senang dan ada harapan kekayaan.
Orang-orang yang lemah iman sedikit yang hadir di saat perjuangan tapi akan datang banyak ketika lapang. Banyak orang menilai keberuntungan hanya dari sisi duniawi, seperti harta, rampasan, atau peluang materi. Padahal, karunia Allah yang paling besar adalah iman yang benar dan kemampuan untuk beramal saleh. Bila seseorang hanya terpikat kepada keuntungan dunia, ia akan mudah tergelincir dalam sikap munafik dan tidak jujur dalam beragama. Karena itu, ukuran keberhasilan seorang mukmin harus dikembalikan kepada iman, ilmu, dan amal, bukan semata kepada kenikmatan dunia. Ukuran kekuatan iman tampak dari konsistensi seorang hamba. Ia tetap taat saat sulit maupun mudah, saat sempit maupun lapang, saat untung maupun terasa berat. Adapun orang yang hanya beribadah ketika merasa diuntungkan, maka itu pertanda kelemahan iman. Ayat ini mengajarkan agar seorang muslim membangun ibadah di atas keikhlasan dan ketundukan, bukan di atas perhitungan hawa nafsu.


selengkapnya bisa di simak di :

SebelumnyaMalam-Malam Berburu Mukjizat - Ramadhan 1447 HSesudahnyaMomen Haru dan Bangga, Pondok Pesantren IIT Rabbani Putra Sukses Gelar Pelepasan Santri Angkatan VII
Tidak ada komentar

Tulis komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *